+6287849159916
Showing posts with label Local. Show all posts
Showing posts with label Local. Show all posts

Wednesday, 29 April 2015


Gambar dimuat di http://liluku.blogspot.com/
Gambar dimuat di http://liluku.blogspot.com/
Di Tana Toraja ada sebuah ritual atau kebiasaan dalam prosesi pemakaman. Cukup unik dan, mungkin menyeramkan karena mayat yang telah disemayamkan bertahun-tahun di sebuah tebing tinggi dan kuburan batu, tiba-tiba jasadnya bangkit…

Mayat itu kemudian berjalan mencari rumahnya. Setiba di rumah, dia akan tidur lagi. Cerita mayat berjalan ini sudah dikenal masyarakat Toraja sejak jaman leluhur. Hingga kini ritual tersebut masih ada dan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di tengah balai-balai rumah, warga menggelar sebuah ritual. Mereka menyebutnya: Ma’nene. Sebuah ritual untuk mengenang leluhur, saudara dan handai taulan yang sudah meninggal. Dari sinilah misteri budaya Tana Toraja terkuak.

Seorang wanita tua terlihat dikelilingi warga. Semua orang memandang serius. Siapa wanita itu? Entahlah. Dilihat dari belakang, dia usianya kira-kira 60-70 tahun. Sangat tua. Rambutnya tergerai dengan lebat. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Dia sama sekali tidak bergerak. Kedua tangannya disilangkan ke depan. Wanita tua itu mengenakan pakaian kegemarannya: warna biru.

Seluruh kulitnya terlihat kusut. Ada warna putih kecoklat-coklatan. Kelihatannya dulu dia pernah mengalami kebakaran sehingga kulitnya menjadi begitu. Yang aneh, meski dikelilingi puluhan orang, wanita itu tetap tak bergeming. Mematung. Tidak menoleh atau berbicara. Setelah didekati, alamak, ternyata dia adalah sesosok mayat!

Gambar dimuat di https://www.lintas.me
Gambar dimuat di https://www.lintas.me
Ma’nene, begitu kata orang Toraja. Apa itu? Itu adalah mayat yang telah diawetkan. Bagi masyarakat Toraja, kematian adalah sesuatu yang disakralkan. Bagi mereka, kematian harus dihormati. Mereka yang mati biasanya diletakkan di dalam gua. Selama bertahun-tahun didiamkan di sana.
Nah, mayat tadi, adalah mayat seorang ibu sekaligus nenek yang telah meninggal selama bertahun-tahun. Tapi anehnya, mayat tersebut masih utuh. Apakah dia dibalsem? Tidak. Kisah tentang mayat utuh ini sudah ada sejak tahun 1905.

Mayat-mayat utuh tersebut pertama ditemukan di sebuah gua di Desa Sillanang. Saat ditemukan mayat tersebut tidak busuk, pun sampai sekarang. Uniknya, mayat untuh itu tidak dibalsem maupun diberi ramuan. Alami.

Menurut anak ketua adat setempat, kemungkinan ada semacam zat di gua itu yang khasiatnya bisa mengawetkan mayat manusia. “Kalau saja ada ahli geologi dan kimia yang mau membuang waktu menyelidiki tempat itu, sepertinya teka teki gua Sillanang dapat dipecahkan,” katanya.

Awal Mula Tradisi Ma’nene
 Gambar dimuat di http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
Gambar dimuat di http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla.
Dikisahkan di tengah perburuan, Pong Rumasek, warga Toraja, menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia. Jasad itu tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Kondisinya mengenaskan.

Tubuhnya tinggal tulang belulang. Hati Pong Rumasek tergugah. Ia ingi merawatnya. Jasad itu dibungkus dengan baju yang dipakainya. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek kemudian melanjutkan perburuannya.

Sejak kejadian itu, setiap kali Pong mengincar binatang buruan, dia selalu mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan di hutan. Kejadian aneh kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang ditinggalkan, tiba-tiba panen lebih cepat dari waktunya. Bahkan, hasilnya berlimpah.

Sejak itu, setiap kali berburu ke hutan, Pong selalu menemui arwah orang mati yang pernah dirawatnya. Bahkan, arwah tersebut sering diajak berburu menggiring binatang.

Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka dari itu, setiap tahun sekali sehabis panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu selalu mengadakan Ma`nene, upacara pemakaman untuk menghormati leluhur, tak lain mendiang Pong Rumasek.

Bagi masyarakat Baruppu, ritual Ma`nene juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan Ma`nene menjadi aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga.
Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma`nene. Mereka menganggap sebelum melaksanakan ritual Ma`nene, status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah. Tapi, jika sudah melakukan Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kawin lagi.

Ritual Ma`nene sendiri dilakukan setiap tahun sekali. Ini merupakan satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa.

Penduduk Desa Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan.

Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang Maraya atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading.

Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari Ta`dung Langit atau yang datang dari awan.

Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan hutan Baruppu dan kawin dengan Dewi Kesuburan Bumi. Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu.

Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi.

Seperti yang dilakukan keluarga besar Tumonglo. Bagi keluarga Tumonglo, ritual Ma`nene adalah sakral dan wajib dilakukan. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan.

Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu–leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu–diturunkan.

Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum.

Bersamaan dengan itu, peti jenazahpun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam itu berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Ilustrasi dimuat di http://oppungmulajadi.blogspot.com/
Ilustrasi dimuat di http://oppungmulajadi.blogspot.com/
Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya.
Di desa Bu`buk, suasananya tak jauh beda dengan desa lainnya di Kecamatan Baruppu. Di tempat ini keluarga besar Johanes Kiding juga akan melakukan Ma`nene terhadap leluhurnya Ne`kiding. Sebelum ke kuburan, masyarakat dan handai taulan berkumpul di pelataran desa di bawah deretan rumah tradisional khas Toraja, Tongkonan.

Ilustrasi dimuat di https://kinko.wordpress.com
Ilustrasi dimuat di https://kinko.wordpress.com
Namun, kuburan yang dituju bukan liang batu seperti umumnya, melainkan Patane, semacam kuburan batu atau rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan jasad para leluhur mereka.

Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan.

Dalam setiap Ma`nene, jasad orang yang meninggal pantang diletakkan di dasar tanah. Karena itu, para sanak keluarga selalu menjaganya dengan memangku jasad leluhurnya. Tak ayal, tangis kepiluan kembali merebak. Mereka meratapi leluhurnya sambil menyebut-nyebut namanya. Jasad yang sudah dibungkus kain baru pun dimasukkan kembali ke dalam rumah patane. Kini, keluarga Johanes pun telah selesai melaksanakan amanah leluhur.

Mayat-mayat yang dimakamkan di kuburan tebing atau kuburan batu (patane)–setelah bertahun-tahun berlalu–kemudian diangkat dan dikeluarkan. Di situ para kerabat keluarga akan menangis. Tapi ada tradisi kuno yang dilakukan warga Toraja, selain mengeluarkan mayat, mereka juga membangkitkan mayat. Lebih unik lagi, mayat tersebut bisa disuruh berjalan pulang ke rumah. Hii…ngeri.

Yah, inilah fakta yang terjadi di Tana Toraja. Dan, mungkin hanya ada di tempat ini. Jika selama ini mayat berjalan hanya bisa ditonton di film-film yang tidak nyata, maka tradisi mayat berjalan di Tanah Toraja benar-benar ada di depan mata dan sangat nyata.

Cerita mengenai mayat berjalan banyak versinya. Versi yang pertama menyebutkan, dulu, ratusan tahun sebelumnya pernah terjadi perang saudara di Tana Toraja. Perang itu melibatkan orang-orang Toraja Barat dan Toraja Timur.

Dalam peperangan tersebut, Toraja Barat kalah telak. Sebagian besar tewas. Tetapi pada saat akan pulang kampung, seluruh mayat Toraja Barat bangkit dari kematin. Dan, berjalan. Sedang orang Toraja Timur, walaupun hanya sedikit yang tewas, mereka tetap menggotong mayat saudara mereka yang mati. Perang itu dianggap seri.

Sementara versi kedua, mayat berjalan kaku dan agak tersentak-sentak itu sebenarnya sudah mengakar dari kehidupan masa lalu. Dulu, orang-orang Toraja biasa menjelajah daerah-daerah yang bergunung-gunung. Di sana banyak ceruk. Dan kemana-mana mereka hanya dengan berjalan kaki.

“Dari zaman purba sampai sekarang tetap begitu. Mereka tidak mengenal pedati, delman, gerobak atau semacamnya. Dalam perjalanan itu, banyak dari mereka yang jatuh sakit dan mati,” cerita warga setempat.

Nah, supaya mayat tidak sampai ditinggal di daerah yang tidak dikenal (orang Toraja sangat menghormati roh orang mati), maka dengan satu ilmu gaib (semacam hipnotis), mayat-mayat itu kemudian dapat berjalan pulang. Cara demikian dilakukan supaya mayat tidak menyusahkan manusia lain. Sebab akan sangat tidak mungkin menggotong terus-menerus jenazah sepanjang perjalanan yang makan waktu berhari-hari. Mayat berjalan itu baru berhenti bila ia sudah meletakkan badannya di dalam rumahnya sendiri.

Kendati demikian masih ada satu pantangan, yakni mayat yang berjalan tidak boleh disentuh. Kalau disentuh, hipnotisnya hilang.

Pada keturunan selanjutnya, orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya. Begitu pula saat mereka ingin pulang atau dikangeni keluarganya. Di rumah, memang telah disediakan satu tempat khusus untuk mayat-mayat tersebut. Bila mereka (mayat) pulang, mereka bisa menghuni rumah itu. Setiba di rumah mereka akan tidur lagi. Tapi jika mau kembali ke rumah sebelumnya, yakni patane, mereka akan berjalan lagi.

Fenomena mayat berjalan juga dituturkan, Ardiansyah (28), warga asli Tanah Toraja. Dia mengaku pernah pernah menyaksikan sendiri dengan mata telanjang, ada mayat berjalan sendiri.

“Kejadiannya sekitar tahun 1992. Waktu itu saya baru kelas 3 SD. Pada saat itu di desa saya ada seorang bernama Pongbarrak yang ibunya meninggal. Seperti adat orang Toraja, sang mayat tidak langsung dikuburkan tetapi masih harus melalui prosesi adat rambu solo atau penguburan,” jelas Ardiansyah.

Setelah mayat dimandikan, lanjut Ardiansyah, mayat itu kemudian diletakkan di tempat tidur dalam sebuah kamar khusus sebelum dimasukkan ke peti jenasah. Pada malam ketiga, seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan bagaimana prosesi pemakaman yang akan dilaksanakan nanti.

“Saat itu saya duduk di teras rumah, tiba-tiba ada kegaduhan dalam rumah. Semua ibu-ibu berteriak. Karena penasaran, saya berusaha melongok ke dalam rumah. Dan astaga, mayat ibu Pngbarrak berjalan keluar dari kamar,” kenang Ardiansyah.

Ardiansyah menceritakan, saat itu dia dan temannya kontan berteriak histeris. Saking takutnya mereka langsung berlari menuruni tangga.

“Saya berlari dan mendapatkan ayah saya sambil berteriak histeris. Setelah itu saya langsung dibawa pulang ke rumah dan saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya,” cerita Ardiansyah yang mengaku baru pertama kali melihat mayat berjalan.

Keesokan harinya, kejadian tersebut membuat seluruh warga heboh. Dan informasi yang diperoleh Ardiansyah, Pongbarrak sengaja melakukan ritual tersebut karena dia ingin menghormati ibunya. Cuma pada malam itu, dia tidak ingin memindahkan ibunya. Pongbarrak cuma berusaha mempraktekkan ilmunya. Sebab konon, jika sang ibu sudah berada di kuburan batu, sewaktu-waktu dia akan menarik ibunya kembali untuk diajak pulang. Tentunya dengan cara berjalan sendiri.

Pada zaman sekarang, diakui Ardiansyah, memang hal itu nyaris tidak pernah terjadi, kecuali orang-orang Toraja yang berada di pedalaman. “Generasi muda seperti saya, malah tidak tahu soal itu. Yang kami tahu, kalau orang mati itu akan diletakkan di kuburan batu. Mereka bisa awet hingga bertahun-tahun,” jelas Ardiansyah yang mengaku pernah memakamkan keluarganya di kuburan batu.

Cuma, yang dibingungi Ardiansyah, adalah mayat berjalan. Menurutnya tradisi itu bukan sembarangan dilakukan oleh orang Tanah Toraja. Mereka yang bisa melakukan itu sebelumnya memiliki ilmu tertentu yang diturunkan dari guru-gurunya atau sesepuh adat.

“Itu ilmu kuno. Di jaman sekarang tak banyak orang bisa melakukan itu,” kata Ardiansyah.

Ardiansyah menambahkan, dia dulunya juga pernah diajari kakeknya. Tapi karena membangkitkan mayat dirasa ngeri, maka dia urung mempelajari ilmu tersebut.

Biasanya, orang yang memiliki ilmu membangkitkan orang mati, mereka awalnya mempraktekkan pada binatang seperti ayam atau kerbau yang diadu dalam keadaan leher terputus.

“Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habis pun, jika diberi mantera-mantera atau ilmu gaib Tanah Toraja, mereka masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk ke sana sini,” kutip Ardiansyah yang mengaku bangga dengan adat leluhurnya.

Meski begitu, tradisi Tanah Toraja menjalankan mayat dari rante (tempat persemayaman) ke patane, diakui Ardiansyah, hanya bisa dilakukan oleh masyarakat Toraja. Mayat-mayat tersebut dapat berjalan karena doa-doa yang dipanjatkan ke leluhur dan arwah almarhum.

Sayang, ritual ini perlahan mulai ditinggalkan. Sebab masyarakat Toraja telah banyak yang memeluk agama samawi. “Ritual Ma’nene sebenarnya tidak hilang, cuma jarang dipakai saja. Tapi bila mau masuk ke pelosok desa, ritual mayat berjalan masih tetap dijalankan. Sebab warga Toraja masih percaya dengan hal-hal mistik dan karena mereka ingin menjaga kekhasan budaya leluhur agar tidak hilang.


Sumber: siaga.co.

Saturday, 18 April 2015


Sore itu si Karto tampak deleg-deleg mandangi ketupat yang baru saja di masak sama mbok Darmi..dan kbetulan pula simbah lewat..eh..sekonyong2 di cegat sama si Karto.......
" Mbah....mbah....sbntar mbah....sini mampir sbentar mbah...monggo..."
" Ada apa to Karto..kok sajaknya ada yg mau di bingcarakan..."
" Bgini mbah....saya itu heran, knapa to mbah..kalo lebaran..orang2 kok sibuk mbikin dan masak
ketupat...mesti ada sejarahe ini mbah....apa itu mbah...?"
" Oooo..itu to...layak..dari tadi kok kamu menthelengi kupat karo gedeg-gedeg gitu...."
" Iya kok mbah....hla pingin ngerti ada apa gitu lho mbahh..."
" Hmm....bgini lho le....memang pada umumnya orang2 skarang itu banyak yg ndak paham kok...padahal itu mengandung Philosopi yag maknanya dalem banget lho....
Kamu tahu to kalo Kupat itu bahan dsarnya Janur....ya to...Janur itu sendiri maknanya yaitu “jatining nur” atau bisa diartikan hati nurani. Dan anyaman yg rumit dan saling mengait itu bermakna perihal hidup manusia yg serba ribet dan saling bersikut-sikutan karena nafsu manusia...Jadi ketupat itu simbol dari nafsu dunia yang bisa ditutupi oleh hati nurani. setiap manusia itu punya hawa nafsu, tetapi nafsu itu bisa dikendalikan atau dikekang oleh hati nurani.

Ketupat sendiri beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Bentuk persegi ketupat juga diartikan masyarakat Jawa sebagai perwujudan kiblat papat limo pancer. Ada yang memaknai kiblat papat limo pancer ini sebagai keseimbangan alam: 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat (kiblat). Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia, dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer (tujuan): Tuhan yang Maha Esa.

Kiblat papat limo pancer ini dapat juga diartikan sebagai 4 macam nafsu manusia dalam tradisi jawa:
marah (emosi), aluamah (nafsu lapar), supiah (memiliki sesuatu yg bagus), dan mutmainah (memaksa diri). Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan menaklukkan hal ini.

Kupat merupakan kependekan dari “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Itulah mengapa setiap Hari Raya Idul Fitri selalu ada tradisi saling memaafkan."

" Ooo....gitu to mbah.... trus kalo Lebaran mbah..? heheh skalian nanya njeh mbah.."
Lebaran erat kaitannya dengan “Laku Papat” ini. Keempat tindakan itu adalah Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.

" Lebaran, berasal dari kata “Lebar” (selesai)

Luberan, berasal dari kata “Luber” (meluap/melimpah) Kata ini memberikan pesan untuk berbagi dengan sesama terutama dengan orang yang kurang beruntung, yakni sedekah secara ikhlas, seperti lubernya air dari tempatnya. Hal ini juga dapat kita jumpai pada bulan Ramadhan yakni pemberian zakat fitrah, infaq dah sedekah.

Leburan, (melebur/menghilangkan) Seiring dengan pengertian “ngaku lepat“, yakni mengakui kesalahan dan saling memohon maaf. Dalam masyarakat Jawa, permohonan maaf ini biasanya dilakukan dengan tradisi sungkeman, yakni permohonan maaf dari orang yang lebih muda kepada yang lebih tua atau dari anak kepada orang tuanya. Kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Mugi segedo lebur ing dinten meniko” maksudnya semua kesalahan dapat dilepas dan dimaafkan pada hari tersebut.

Laburan, dari kata “Labur” atau kapur (bahan untuk memutihkan dinding)
Kebiasaan masyarakat Jawa sebelum Lebaran adalah melabur atau memutihkan dinding rumah agar terlihat bersih pada saat Lebaran. Hal ini juga memberikan pesan bahwa agar senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin. Jadi setelah melaksanakan Leburan (saling memaafkan) dipesankan untuk selalu menjaga sikap dan tindakan yang baik, sehingga mencerminkan budi pekerti yang baik pula.

Ketupat saat lebaran sangat nikmat jika disandingkan dengan opor ayam. Hidangan daging ayam yang dimasak dengan kuah santan ini sangat cocok jika disantap dengan ketupat. Seperti halnya ketupat yang berarti “ngaku lepat“, opor ayam yang dibuat dari santan juga punya filosofinya tersendiri.

Santan atau santen bagi orang jawa diartikan sebagai “pangapunten” atau memaafkan. Jadi kurang lebih makna dari ketupat dan opor adalah, jika mengakui kesalahan maka maafkanlah.

Inilah mengapa pada saat Idul Fitri ada tradisi saling memaafkan. Walaupun banyak orang bilang bahwa tak perlu menunggu Lebaran untuk meminta maaf, nyatanya banyak sekali kesalahan yang belum kita mintakan maaf maupun kita maafkan sebelum datangnya hari yang fitri tersebut. Hantaran “Kupat Santen” sebagai perlambang permintaan maaf sudah seharusnya dibalas dengan melakukan hal yang sama. Artinya, selain meminta maaf, kita juga harus bersedia memberi maaf.

" Ooo...ngono tow mbah.....dong sekarang saya mbah....."
" Hla endi To.....wes matengan durung......?"


Sekelumit catetan...smoga ada mangpaatnya......suwun

Sunday, 14 July 2013

Wednesday, 16 January 2013

notasi atau serat kanayagan yang dipergunakan dalam karawitan Sunda ialah serat kanayagan Daminatila atau notasi Machyar. Lambang Not yang dipergunakan ialah angka. Daminatila buah karya Rd. Machyar Anggakusumadinata pada tahun duapuluhan. Kata-katanya sendiri diambil dari kalimat; Ada ada minangka pranata-ning laras. Daminatila (1,2,3,4,5) adalah nada-nada relative, artinya kedudukannya bisa ditempatkan/disamakan/disurupkeun dengan nada apa saja asal yang tersusun dalam nada-nada karawitan Sunda, sedangkan nada-nada pokok biasa disebut nada mutlak. Yang dimaksud dengan nada mutlak itu sendiri adalah nada yang telah tetap susunannya dan tidak bisa berubah kedudukannya. System notasi (serat kanayagan) daminatila dipergunakan untuk semua laras dan surupan yang selalu bertautan dengan susunan nada-nada mutlaknya. Nada-nada mutlak itu tersesusun sebagai berikut: a. Tugu, Barang, Nem; b. Kenong, Loloran; c. Panelu; d. Bem, Galimer; e. Singgul, Petit’ Demikianlah nada-nada pokok dalam karawitan Sunda yang terdiri dari lima nada. Susunan nada di atas sama penerpannya dalam laras pelog dan salendro. Daminatila adalah nada-nada relative, dengan kerelatipannya itu, daminatila bisa disurupkan dengan kelima nada mutlak, umpamanya: Da = Tugu Da = Panelu Da = Galimer Susunan not angka yang diterapkan pada serat kanayagan daminatila tersusun sebagai berikut: 1 = da 2 = mi 3 = na 4 = ti 5 = la Berbeda dengan musik yang mempergunakan solmisasi (doremifasolasido) sebagai tangga nada naik, maka serat kanayagan dami natila tangga nadanya adalah tangga nada turun. Jadi deretan nada itu tersusun dari nada tinggi menurun ke nada-nada yang rendah. Hal ini berlaku untuk semua laras dan surupannya,. Untuk jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini. Pada dasarnya tanda-tanda baca yang dipergunakan dalam serat kanayagan daminatila sama dengan musik. Artinya tentang garis harga, matera, legato dan tanda-tanda yang lainnya. Tetapi ada satu hal yang justru berbeda sekali dengan kebiasaan dalam notasi musik, hal itu ialah penggunaan tanda titik untuk nada tinggi atau rendah. Sebuah nada memakai titik di atasnya, untuk musik berarti nadanya tinggi sedangkan pada karawitan berarti nadanya rendah, demikian pula sebaliknya titik di bawah nada, untuk musik berarti nada tinggi dan untuk serat kanayagan berarti nada rendah. Tanda baca lainnya yang sangat berbeda dengan penulisan musik ialah tentang istilah malang dan miring. Istilah malang dalam karawitan Sunda identik dengan istilah mol, sedangkan istilah miring identik dengan kruis pada musik. Tanda untuk malang mempergunakan lambing plus (+), sedangkan lambing miring menggunakan lambing min (-). Tanda malang dipergunakan bila sebuah nada bergeser lebih besar, yang biasanya satu titik suara yang tidak sama (tidak sampai sama) dengan deretan nada mutlak seterusnya. Penggunaan kata malang dan miring ditempatkan pula pada kedudukan nada-nada mutlak. Misalnya Tugu malang, Panelu miring dan sebagainya. Jadi tidak benar kalau disebutkan da malang atau da miring. Sebagai contoh perhatikan contoh di bawah ini: Tugu malang seandainya surupan yang dipergunakan ieu da = Tugu maka penulisannya tertera 1+ Tugu miring seandainya surupan yang dipergunakan ieu da = Tugu, maka penulisannya tertera 1- Untuk lebih mengetahui kegunaan atau penerapan malang dan miring pada karawitan Sunda, maka akan terlihat jelas apabila memperhatikan kedudukan nada dalam susunan laras pelog dan laras salendro. Malang dan miring lebih berfungsi sebagai nada-nada sisipan yang berada di antara dua nada mutlak. Itu pun terjadi apabila susunan di antara kedua nada mutlak itu tidak berhimpitan sehingga memungkinkan ada jarak (interval) di antara keduanya. Kalau tidak, maka malang dan miring tidak dipergunakan. Hal ini akan terasa pada susunan laras pelog, dimana terdapat beberapa nada yang jaraknya berhimpitan, sedangkan dalam laras salendro, malang dan miring lebih berperan karena jaraknya yang sedikit berjauhan. Pada dasarnya tanda-tanda baca yang dipergunakan dalam serat kanayagan daminatila sama dengan musik. Artinya tentang garis harga, matera, legato dan tanda-tanda yang lainnya. Tetapi ada satu hal yang justru berbeda sekali dengan kebiasaan dalam notasi musik, hal itu ialah penggunaan tanda titik untuk nada tinggi atau rendah. Sebuah nada memakai titik di atasnya, untuk musik berarti nadanya tinggi sedangkan pada karawitan berarti nadanya rendah, demikian pula sebaliknya titik di bawah nada, untuk musik berarti nada tinggi dan untuk serat kanayagan berarti nada rendah. Tanda baca lainnya yang sangat berbeda dengan penulisan musik ialah tentang istilah malang dan miring. Istilah malang dalam karawitan Sunda identik dengan istilah mol, sedangkan istilah miring identik dengan kruis pada musik. Tanda untuk malang mempergunakan lambing plus (+), sedangkan lambing miring menggunakan lambing min (-). Tanda malang dipergunakan bila sebuah nada bergeser lebih besar, yang biasanya satu titik suara yang tidak sama (tidak sampai sama) dengan deretan nada mutlak seterusnya. Penggunaan kata malang dan miring ditempatkan pula pada kedudukan nada-nada mutlak. Misalnya Tugu malang, Panelu miring dan sebagainya. Jadi tidak benar kalau disebutkan da malang atau da miring. Sebagai contoh perhatikan contoh di bawah ini: Tugu malang seandainya surupan yang dipergunakan ieu da = Tugu maka penulisannya tertera 1+ Tugu miring seandainya surupan yang dipergunakan ieu da = Tugu, maka penulisannya tertera 1- Untuk lebih mengetahui kegunaan atau penerapan malang dan miring pada karawitan Sunda, maka akan terlihat jelas apabila memperhatikan kedudukan nada dalam susunan laras pelog dan laras salendro. Malang dan miring lebih berfungsi sebagai nada-nada sisipan yang berada di antara dua nada mutlak. Itu pun terjadi apabila susunan di antara kedua nada mutlak itu tidak berhimpitan sehingga memungkinkan ada jarak (interval) di antara keduanya. Kalau tidak, maka malang dan miring tidak dipergunakan. Hal ini akan terasa pada susunan laras pelog, dimana terdapat beberapa nada yang jaraknya berhimpitan, sedangkan dalam laras salendro, malang dan miring lebih berperan karena jaraknya yang sedikit berjauhan. 6.1. Sistem Notasi dalam Laras Pelog Menurut teori Rd. Machyar Anggakusumadinata dalam bukunya Pangawikan Rinengga Swara, disebutkan bahwa laras pelog itu terdiri dari sembilan suara. Dari jumlah sembilan suara itu dibagi dua bagian, yaitu lima yang berlaku sebagai suara lulugu (suara pokok) dan empat sebagai suara hiasan (Uparengga Suara). Kesembilan nada-nada itu tersusun sebagai berikut: a. Tugu b. Kenong/Loloran c. ----- Bungur d. ----- Panangis e. Panelu f. Galimer/Bem g. Singgul h. ----- Pamiring i. ----- Sorog (Catatan: tanda ----- menunjukan nada papas/hiasan/uparengga suara yang biasanya berada di antara dua nada yang mempunyai interval besar) Penerapan notasi (serat kanayagan) dari laras pelog yang berjumlah sembilan suara itu tersusun sebagai berikut: Laras Pelog 1 = Tugu Tugu = 1 dibaca da Kenong = 2 dibaca mi Bungur = 3- dibaca ni Panangis = 2+ dibaca meu Panelu = 3 dibaca na Bem/Galimer= 4 dibaca ti Singgul = 5 dibaca la Pamiring = 1- dibaca di Sorog = 5+ dibaca leu Jadi, susunan nada-nada pelog dalam surupan da = Tugu, tersusun dalam untaian nada relatif daminatila sebagai berikut: da, mi, ni, meu, na, ti, la, di, leu. Susunan nada-nada ini akan selalu tetap walaupun kita mengubah-ubah surupannya. Untuk latihan ada baiknya dicoba penggunaan surupan da = Kenong/Loloran, da = Panelu, da=Bem/Galimer, dan seterusnya. Surupan dalam laras Pelog Dilihat dari jumlah nada pada laras pelog maka surupan yang ada harus berjumlah sembilan, namun dalam pelaksanaan prakteknya dalam waditra gamelan pelog hanya bisa dimainkan tiga surupan. Hal ini disebabkan nada panangis dan pamiring belum ada. Nama ketiga surupan itu adalah: (a) Surupan Jawar menggunakan surupan 1 (da) = Tugu (b) Surupan Liwung mempergunakan surupan da (1) = Galimer (c) Surupan Sorog mempergunakan surupan da (1) = Panelu Dari perbedaan ketiga surupan itu, jelas bahwa yang menonjol adalah tinggi rendahnya surupan yang dipergunakan, tetapi ada satu hal yang perlu pula diperhatikan bahwa walaupun kenyataannya perbedaan tinggi-rendah itu yang berbeda, ada satu hal lagi yang kiranya membedakan perbedaan yaitu suasana. Hal ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan musik (tangga nada diatonis), dimana penggunaan tinggi rendah nada tidak terlalu membawa perbedaan terhadap jiwa lagu. Sebagai contoh sebuah lagu yang sama dimainkan di do=C dan do=D, suasananya akan tetap sama. Tetapi dalam karawitan Sunda, dengan perbedaan surupan sekaligus membawa suasana yang berbeda pula (terutama pada ketiga surupan di atas, JATU LIGA SOPA , Jawar 1=Tugu, Liwung 1=Galimer dan Sorog 1 = Panelu) Dlam karawitan Jawa ketiga surupan tersebut lebih dikenal sebutan patet yaitu, patet Nem sama dengan Jawar, patet lima sama dengan Liwung dan Patet Barang sama dengan Sorog. 6.2. Sistem Notasi dalam Laras Salendro Laras Salendro ada dua macam yaitu Salendro Padantara (Pada=sama, antara=interval/jarak nada) dan Bedantara (Beda=berbeda, antara=interval/jarak nada) Perbedaan kedua laras salendro tersebut terldapat pada jumlah nada yang dipergunakan dan interval/swarantara dari masing-masing nadanya. a) Salendro Padantara mempunyai jumlah nada sebanyak 15 nada, dengan interval masing-masing nada adalah sama yaitu 80 cent, jelasnya lihat susunan salendro padantara berikut ini: Tb) Salendro Bedantara mempunyai jumlah nada sebanyak 17 nada, dengan interval masing-masing nada kurang lebih berkisar 70,58 cent. Perbedaan yang mendasar dengan Salendro padantara ialah jarak suara Loloran ke Panelu dan Singgul ke Tugu, yang biasanya berjarak dua titik suara menjadi tiga titik suara. Untuk jelasnya lihat bagan salendro bedantara di bawah ini: Perbedaan antara Padantara dan Bedantara dilihat secara sepintas kurang begitu jelas, tetapi pada prakteknya sangat terasa sekali, terutama dalam penggunaan surupannya. Dalam buku Pangawikan Rinengga Swara karya Rd. Machyar Anggakusumadinata disebutkan adanya penambahan dua suara dalam salendro bedantara yaitu adanya suara Panangis dan Sorog. Adapun kedudukan nada Panangis dan Sorog itu sangat berlainan dengan penempatan pada laras pelog. Perhatikan kedudukan dua nada pada penampang di bawah ini: Dengan adanya suara Sorog dan Panangis dalam salendro Bedantara, maka salendro ini mempunyai tiga surupan, yaitu: Surupan da = Tugu, disebut Sekar Manisi atau Sari Arum Surupan da = Panelu, disebut Sekar Roneng Surupan da = Galimer, disebut Sekar Tonggeret Perhatikan penampang ketiga surupan pada penampang di bawah ini: Sekar Manis da = T Sekar Roneng da = P Sekar Tonggeret da = G 6.3. Sistem Notasi dalam Laras Madenda Laras Madenda selain berkembang dalam surupannya, juga bercabang dalam laras-laras lain. Dengan system tumbuk nada dan pembentukan swarantara secara mandiri, jadilah laras lain dari patokan salendro itu sendiri. (Tumbuk nada adalah berpadunya nada dalam Madenda dengan nada-nada pokok dalam laras Salendro. Dalam laras Madenda suara-suara yang tumbuk biasa padu pada nada-nada pokok salendro yang mempunyai tugas dalam tiap patetnya. Tugas-tugas nada itu antara lain Patokaning laras, Panglangen dan Renaning Laras. Dalam tiap patet ada tiga nada yang tumbuk dan nada-nada itu diisi oleh suara-suara ti, la dan mi dalam laras madenda. Untuk jelasnya, perhatikan susunan nada-nada dalam laras Madenda untuk setiap patet. Penampang ini diolah dari laras Salendro Padantara, untuk itu perhatikan pada setiap patet ada nada-nada yang tumbuk dengan nada pokok salendro ( S,G,P,L,T) 6.4. Sistem Notasi dalam Laras Degung Laras degung terdiri dari dua macam, yaitu: Laras Degung Dwi Swara dan Laras degung Tri Suara. Laras Degung Dwi Suara ialah degung dengan aturan nada tumbuk dua atau biasa disebut degung “mi-la”, sedangkan Degung Tri Suara jumlah nada yang tumbukny ada tiga buah, yaitu suara Na, Ti dan Da. Seperti halnya Laras Madenda yang mempunyai susunan nada-nada yang tersendiri, degung pun demikian pula halnya. Susunan suara yang diatur dalam tiap gembyangannya, mrmbawa jiwa laras yang berbeda dengan yang lainnya. Perhatikan penampang laras Degung Dwi Suara dalam kedudukannya mengisi tiap-tiap patet. Penampang Laras Degung Tri Suara dalam kedudukannya mengisi tiap-tiap patet Apabila kita perhatikan dengan seksama perbedaan jarak-jarak nada antara degung dan madenda, jelas jarak suara “na – ti” pada madenda berdekatan, sedangkan pada degung berjarak dua titik suara. Demikian pula suarantara “ti – la”. Pada madenda berjarak dua titik suara, sedangkan pada degung jaraknya berdekatan. Lagu dalam laras degung dan lagu dalam gamelan degung mempunyai perbedaan yang sangat besar. Hal ini akan sangat jelas apabila kita berorientasi pada teknis iringan. Untuk sekadar catatan saja, gamelan-gamelan degung yang berada di Pasundan sangat jarang berorientasi pada gamelan salendro. Dalam surupannya lebih banyak berstandar pada ukuran tembang Sunda.Menurut teori Rd. Machyar Anggakusumadinata dalam bukunya Pangawikan Rinengga Swara, disebutkan bahwa laras pelog itu terdiri dari sembilan suara. Dari jumlah sembilan suara itu dibagi dua bagian, yaitu lima yang berlaku sebagai suara lulugu (suara pokok) dan empat sebagai suara hiasan (Uparengga Suara). Kesembilan nada-nada itu tersusun sebagai berikut: a. Tugu b. Kenong/Loloran c. ----- Bungur d. ----- Panangis e. Panelu f. Galimer/Bem g. Singgul h. ----- Pamiring i. ----- Sorog (Catatan: tanda ----- menunjukan nada papas/hiasan/uparengga suara yang biasanya berada di antara dua nada yang mempunyai interval besar) Penerapan notasi (serat kanayagan) dari laras pelog yang berjumlah sembilan suara itu tersusun sebagai berikut: Laras Pelog 1 = Tugu Tugu = 1 dibaca da Kenong = 2 dibaca mi Bungur = 3- dibaca ni Panangis = 2+ dibaca meu Panelu = 3 dibaca na Bem/Galimer= 4 dibaca ti Singgul = 5 dibaca la Pamiring = 1- dibaca di Sorog = 5+ dibaca leu Jadi, susunan nada-nada pelog dalam surupan da = Tugu, tersusun dalam untaian nada relatif daminatila sebagai berikut: da, mi, ni, meu, na, ti, la, di, leu. Susunan nada-nada ini akan selalu tetap walaupun kita mengubah-ubah surupannya. Untuk latihan ada baiknya dicoba penggunaan surupan da = Kenong/Loloran, da = Panelu, da=Bem/Galimer, dan seterusnya. Surupan dalam laras Pelog Dilihat dari jumlah nada pada laras pelog maka surupan yang ada harus berjumlah sembilan, namun dalam pelaksanaan prakteknya dalam waditra gamelan pelog hanya bisa dimainkan tiga surupan. Hal ini disebabkan nada panangis dan pamiring belum ada. Nama ketiga surupan itu adalah: (a) Surupan Jawar menggunakan surupan 1 (da) = Tugu (b) Surupan Liwung mempergunakan surupan da (1) = Galimer (c) Surupan Sorog mempergunakan surupan da (1) = Panelu Dari perbedaan ketiga surupan itu, jelas bahwa yang menonjol adalah tinggi rendahnya surupan yang dipergunakan, tetapi ada satu hal yang perlu pula diperhatikan bahwa walaupun kenyataannya perbedaan tinggi-rendah itu yang berbeda, ada satu hal lagi yang kiranya membedakan perbedaan yaitu suasana. Hal ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan musik (tangga nada diatonis), dimana penggunaan tinggi rendah nada tidak terlalu membawa perbedaan terhadap jiwa lagu. Sebagai contoh sebuah lagu yang sama dimainkan di do=C dan do=D, suasananya akan tetap sama. Tetapi dalam karawitan Sunda, dengan perbedaan surupan sekaligus membawa suasana yang berbeda pula (terutama pada ketiga surupan di atas, JATU LIGA SOPA , Jawar 1=Tugu, Liwung 1=Galimer dan Sorog 1 = Panelu) Dlam karawitan Jawa ketiga surupan tersebut lebih dikenal sebutan patet yaitu, patet Nem sama dengan Jawar, patet lima sama dengan Liwung dan Patet Barang sama dengan Sorog. 6.2. Sistem Notasi dalam Laras Salendro Laras Salendro ada dua macam yaitu Salendro Padantara (Pada=sama, antara=interval/jarak nada) dan Bedantara (Beda=berbeda, antara=interval/jarak nada) Perbedaan kedua laras salendro tersebut terldapat pada jumlah nada yang dipergunakan dan interval/swarantara dari masing-masing nadanya. a) Salendro Padantara mempunyai jumlah nada sebanyak 15 nada, dengan interval masing-masing nada adalah sama yaitu 80 cent, b) Salendro Bedantara mempunyai jumlah nada sebanyak 17 nada, dengan interval masing-masing nada kurang lebih berkisar 70,58 cent. Perbedaan yang mendasar dengan Salendro padantara ialah jarak suara Loloran ke Panelu dan Singgul ke Tugu, yang biasanya berjarak dua titik suara menjadi tiga titik suara. Perbedaan antara Padantara dan Bedantara dilihat secara sepintas kurang begitu jelas, tetapi pada prakteknya sangat terasa sekali, terutama dalam penggunaan surupannya. Dalam buku Pangawikan Rinengga Swara karya Rd. Machyar Anggakusumadinata disebutkan adanya penambahan dua suara dalam salendro bedantara yaitu adanya suara Panangis dan Sorog. Adapun kedudukan nada Panangis dan Sorog itu sangat berlainan dengan penempatan pada laras pelog. Dengan adanya suara Sorog dan Panangis dalam salendro Bedantara, maka salendro ini mempunyai tiga surupan, yaitu: Surupan da = Tugu, disebut Sekar Manisi atau Sari Arum Surupan da = Panelu, disebut Sekar Roneng Surupan da = Galimer, disebut Sekar Tonggeret Perhatikan penampang ketiga surupan pada penampang di bawah ini: Sekar Manis da = T Sekar Roneng da = P Sekar Tonggeret da = G 6.3. Sistem Notasi dalam Laras Madenda Laras Madenda selain berkembang dalam surupannya, juga bercabang dalam laras-laras lain. Dengan system tumbuk nada dan pembentukan swarantara secara mandiri, jadilah laras lain dari patokan salendro itu sendiri. (Tumbuk nada adalah berpadunya nada dalam Madenda dengan nada-nada pokok dalam laras Salendro. Dalam laras Madenda suara-suara yang tumbuk biasa padu pada nada-nada pokok salendro yang mempunyai tugas dalam tiap patetnya. Tugas-tugas nada itu antara lain Patokaning laras, Panglangen dan Renaning Laras. Dalam tiap patet ada tiga nada yang tumbuk dan nada-nada itu diisi oleh suara-suara ti, la dan mi dalam laras madenda. Untuk jelasnya, perhatikan susunan nada-nada dalam laras Madenda untuk setiap patet. Penampang ini diolah dari laras Salendro Padantara, untuk itu perhatikan pada setiap patet ada nada-nada yang tumbuk dengan nada pokok salendro ( S,G,P,L,T) 6.4. Sistem Notasi dalam Laras Degung Laras degung terdiri dari dua macam, yaitu: Laras Degung Dwi Swara dan Laras degung Tri Suara. Laras Degung Dwi Suara ialah degung dengan aturan nada tumbuk dua atau biasa disebut degung “mi-la”, sedangkan Degung Tri Suara jumlah nada yang tumbukny ada tiga buah, yaitu suara Na, Ti dan Da. Seperti halnya Laras Madenda yang mempunyai susunan nada-nada yang tersendiri, degung pun demikian pula halnya. Susunan suara yang diatur dalam tiap gembyangannya, mrmbawa jiwa laras yang berbeda dengan yang lainnya. Perhatikan penampang laras Degung Dwi Suara dalam kedudukannya mengisi tiap-tiap patet. Apabila kita perhatikan dengan seksama perbedaan jarak-jarak nada antara degung dan madenda, jelas jarak suara “na – ti” pada madenda berdekatan, sedangkan pada degung berjarak dua titik suara. Demikian pula suarantara “ti – la”. Pada madenda berjarak dua titik suara, sedangkan pada degung jaraknya berdekatan. Lagu dalam laras degung dan lagu dalam gamelan degung mempunyai perbedaan yang sangat besar. Hal ini akan sangat jelas apabila kita berorientasi pada teknis iringan. Untuk sekadar catatan saja, gamelan-gamelan degung yang berada di Pasundan sangat jarang berorientasi pada gamelan salendro. Dalam surupannya lebih banyak

Tuesday, 15 January 2013

Asal istilah Kata ""Gandrung"" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Pertunjukan Gandrung Banyuwangi Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).[rujukan?]Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi. Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00). Sejarah Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu. Mengenai asalnya kesenian gandrung Joh Scholte dalam makalahnya antara lain menulis sebagai berikut: Asalnya lelaki jejaka itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya didalam sebuah kantong. (Gandroeng Van Banyuwangi 1926, Bab “Gandrung Lelaki”). Apa yang ditulis oleh Joh Scholte tersebut, tak jauh berbeda dengan cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, bahwa gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana (terbang). Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kab. Banyuwangi) yang jumlahnya konon tinggal sekitar lima ribu jiwa, akibat peperangan yaitu penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi, hingga berakirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772. Konon jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau di selong (di buang) oleh Kompeni lebih dari enam puluh ribu jiwa. Sedang sisanya yang tinggal sekitar lima ribu jiwa hidup terlantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan, terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi punya orang tua.(telah yatim piyatu) dan selain itu ada juga yang melarikan diri menyingkir ke negeri lain. Seperti ke Bali, Mataram, Madura dan lain sebagainya. Setelah usai pertunjukan gandrung menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya dan sebagainya. Dan sebenarnya yang tampaknya sebagai imbalan tersebut, merupakan sumbangan yang nantinya dibagi-bagikan kepada mereka yang keadaannya sangat memprihatinkan dipengungsian dan sangat memerlukan bantuan, baik mereka yang mengungsi di pedesaan, di pedalaman, atau yang bertahan hidup dihutan-hutan dengan segala penderitaannya walau peperang telah usai. Mengenai mereka yang bersikeras hidup di hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan tersebut, disinggung oleh C. Lekerkerker yang menulis beberapa kejadian setelah Bayu dapat dihancurkan oleh gempuran Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772, antara lain sebagai berikut; Pada tanggal 7 Nopember 1772, sebanyak 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri ke Kompeni, Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan tawanan laki-laki yang dituduh mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar. Juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri kedalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka. Sehingga udara yang disebabkan mayat-mayat yang membusuk sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap dihutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras tetap tinggal dalam hutan dengan segala penderitaannya. Berkat munculnya gandrung yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibukota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit. Setelah selesai ibu kota yang baru dibangun dikenal dengan nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad (Tirta-arum). Dari keterangan tersebut terlihat jelas bahwa tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni (yaitu yang dewasa ini meliputi Daerah Kabupaten Banyuwangi). Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita. Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan. Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20. Tata Busana Penari Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak. Bagian Tubuh Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu. Bagian Kepala Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini. Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis. Bagian Bawah Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya. Lain-lain Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh. Musik Pengiring Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing. Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone. Tahapan-Tahapan Pertunjukan Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian: jejer maju atau ngibing seblang subuh [sunting]Jejer Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan. Maju Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu. Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi. Seblang subuh Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung. Perkembangan terakhir Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari. Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using. Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Sejak Desember 200, Tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat. Referensi ^ http://www.banyuwangikab.go.id/kesenian-daerah/kesenian-gandrung.html ^ Novi Anoegrajekti. "Penari Gandrung: Kontrol Agama, Masyarakat dan Kekuatan Pasar" dalam Merayakan Keberagaman, Jurnal Perempuan, Vol.54 tahun 2007. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, hal.51 ^ (Balambangan Indisch Gids II th. 1923 h. 1060) ^ Antara lain, J.Scholte, Gandroeng van Banjoewangie, 1927; Paul A.Wolbers, Maintaining Using Identity, 1992, hal.89; "The Seblang and its music..." dalam "Performance in Java and Bali, 1993, hal.36; Fatrah Abal, "Seblang Lukento", makalah tidak diterbitkan, 2001; dan Hasnan Singodimayan, dkk., "Gandrung Banyuwangi", Banyuwangi: Dewan Kesenian Blambangan, 2003. ^ Lihat Singodimayan, dkk. Opcit., hal.60 ^ Richard Schechner. 1985. Between Theatre and Anthropology. Phyladelphia: University of Pennsylvania Press, hal.125-126 ^ http://www.budpar.go.id/page.php?ic=543&id=151
Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di Ujung paling timur pulau Jawa Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa. Di abad ke-16, satu-satunya kerajaan Islam yang berarti di Jawa Timur adalah Pasuruan. Daerah lain masih dipimpin penguasa yang beragama Hindu. Kemungkinan besar terjadi perang antara Pasuruan dan Blambangan pada tahun 1540-an, 1580-an dan 1590-an. Rupanya pada tahun 1600 atau 1601 ibukota Blambangan ditaklukkan. Menurut babad Jawa dan juga penulis Belanda François Valentyn, pada abad ke-17, Blambangan adalah bawahan Surabaya, namun hal ini diragukan. Yang jelas, Sultan Agung dari Mataram (bertahta 1613-1646), yang menyerang Blambangan tahun 1633, tidak pernah dapat menaklukkannya. Tahun 1697 Blambangan ditaklukkan oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti, raja Buleleng di Bali Utara, mungkin dengan bantuan Surapati Raja Blambangan Prabu Tawang Alun dikalahkan dan untuk sementara Ki Gusti Ngurah Panji Sakti menunjuk perwakilannya untuk memerintah Blambangan sementara, I Gusti Anglurah Panji Sakti memberikan kekekuasaan Kerajaan Blambangan kepada Cokorda Agung Mengwi setelah dinikahkan putri Raja Mengwi tersebut. setelah Blambangan dalam kendali Mengwi, Badung Ditunjuklah keturunan Prabu Tawang Alun untuk memegang Kerajaan Blambangan yaitu Pangeran Danuningrat, dimana Prabu Danuningrat untuk mengikat kesetiaan ia beristrikan Putri Cokorda Agung Mengwi. Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah taklukan Bali. Kerajaan Mengwi pernah menguasai wilayah ini. Usaha penaklukan Kesultanan Mataram terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.
  Silsilah Kerajaan Blambangan
Silsilah Awal •Mpu Withadarma •Mpu Bhajrastawa •Mpu Lempita •Mpu Gnijaya •Mpu Wiranatha •Mpu Purwantha •Ken Dedes •Mahisa Wonga Teleng •Mahisa Campaka •Lembutal •Rana Wijaya/Raden Wijaya •Tribuana Tunggadewi •Hayam Wuruk •Wikramawardhana •Kerta Wijaya •Cri Adi Suraprabawa •Lembu Anisraya/Minak Anisraya •Mas Sembar/Minak Sembar •Bima Koncar/Minak Sumendhe (memerintah Blambangan pada tahun 1489-1500) •Minak Pentor (memerintah Blambangan 1500-1541) •Minak Gadru ( Memerintah Prasada/Lumajang): Minak Gadru menurunkan Minak Lampor yang memerintah di Werdati-Teposono-Lumajang. •Minak Cucu (Memerintah Candi Bang/Kedhaton Baluran): Minak Cucu terkenal dengan sebutan Minak Djinggo penguasa Djinggan beliau berputra SONTOGUNO yang memerintah Blambangan pada 1550 hingga 1582. •Minak Lampor •Minak Lumpat (Sebagai Raja di Werdati) •Minak Luput (Sebagai Senopati) •Minak Sumendi (sebagai Karemon/Agul Agul) Kemudian Minak Lumpat atau SUNAN REBUT PAYUNG berputra Minak Seruyu/Pangeran Singosari (Sunan Tawang Alun I), Pangeran Singosari menaklukan Mas Kriyan dan seluruh keluarga Mas Kriyan, sehingga tidak ada keturunannya, Sunan Tawang Alun I memerintah wilayah Lumajang, Kedawung dan Blambangan pada tahun 1633-1639 Gusti Sunan Tawang Alun I memiliki Putra : •Gede Buyut •Mas Ayu Widharba •Mas Lanang Dangiran (Mbah Mas Brondong) •Mas Senepo/Mas Kembar •Mas Lego. selanjutnya Mas Lego menurunkan MAS SURANGGANTI dan MAS SURODILOGO (MBAH KOPEK), Sementara Mas Lanang Dangiran menurunkan Mas Aji Reksonegoro dan Mas Danuwiryo. Silsilah Setelah Tawang Alun I Mas Senepo inilah yang kemudian memerintah Kedhaton Macan Putih bergelar Susuhunan Gusti Prabhu Tawang Alun, Dimana beliau memerintah pada wilayah Kerajaan Blambangan 1645 hingga 1691, pada masa Pemerintahan Susuhunan Gusti Prabhu Tawang Alun Blambangan maju dengan pesat dimana kekuasaannya menyatu hingga ke lumajang. Gusti Prabhu Tawang Alun memiliki dua Permaisuri dan beberapa selir, sehingga terjadi beberapa garis keturunan. Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun memiliki putra putri dari Mas Ayu Rangdiyah (MA. Rangdiyah adalah selir Sinuhun Gusti Adhiprabhu Sultan Agung Mataram, dimana ketika hamil 3 Bulan diserahkan pada Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun) : •Pangeran Pati, Menikah dengan Puteri Untung Surapati, menurunkan : •Pangeran Putro/Mas Purbo/ Danurejo. Sementara itu Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun dari Permaisuri lainnya yaitu Mas Ayu Dewi Sumekar (Blater) menurunkan : •Dalem Agung Macanapuro •Dalem Patih Sasranegoro/Pangeran Dipati Rayi •Pangeran Keta •Pangeran Mancanegara •Pangeran Gajah binarong sementara dari para selir Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun menurunkan : •Mas Dalem Jurang mangun •Mas Dalem Puger •Mas Dalem ki Janingrat •Mas Dalem Wiroguno •Mas Dalem Wiroluko •Mas Dalem Wiroludro •Mas Dalem Wilokromo •Mas Dalem Wilo Atmojo •Mas Dalem Wiroyudo •Mas Dalem Wilotulis ketika Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun wafat terjadi pengangkatan Pangeran Pati sebagai Raja Blambangan Macan Putih, hal ini menjadi permasalahan mengingat Pangeran Pati sejatinya adalah keturunan Sinuhun Gusti Adhiprabhu Sultan Agung, sehingga menimbulkan peperangan antara Pangeran Pati dan Dalem Agung Macanapuro dan juga Pangeran Dipati Rayi. Pangeran Pati dikalahkan namun putranya yaitu pangeran Putro/ Danurejo menggantikan beliau, tercatat perang saudara tersebut berlangsung lama dan baik Macanapuro, Danurejo dan Sosronegoro sempat memimpin Blambangan menjadi raja namun hanya sebentar mengingat perang rebut tersebut terus menerus berlangsung. Dipati Rayi mengamuk dan merusak Kedhaton Macan Putih pangeran dipati Rayi beliau baru berhenti karena meninggal akibat senjata Ki Buyut Wongsokaryo yaitu Tulup Ki Baru Klitik. Perang saudara setelah swargi Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun, membuat macan putih menjadi rusak dan baik Gusti Prabhu Macanapuro, Gusti Prabhu Sosronegoro/Dipati Ray, Pangeran Patii maupun Gusti Prabhu Danurejo seluruhnya meninggal- swargi. Yang paling mengesankan adalah kemarahan Dipati Rayi yang sangat sakti beliau juga adalah murid Ki Buyut Wongsokaryo yang juga guru dari Gusti Prabhu Tawang Alun, kesaktian Dipati Rayi atau Prabhu Sosronegoro membuat Kedhaton Macan Putih hancur, para agul agul berperang secara lingsem (malu). Gusti Prabhu Danurejo memiliki permasyuri Mas Ayu Gendhing dari perkawinan tersebut memiliki Putra : •Pangeran Agung Dupati Sementara dari selir (kakak Ipar Gusti Agung Mengwi/Raja Mengwi) beliau berputra : •Mas Sirno/ Pangeran Wilis/ Wong Agung Wilis. Karena kacaunya perang saudara Pangeran Gung Dupati dan Pangeran Mas Sirno diungsikan sampai perang mereda dan Pangerang Gung Dupati diangkat Menjadi Raja Blambangan yang bergelar Sinuhun Gusti Prabhu Danuningrat memerintah Blambangan Kedhaton Macan putih pada tahun 1736-1763 Di akhir abad ke-18, setelah terjadi perang Puputan Bayu 1771 VOC mengisi kekosongan pemerintahan dan menggabungkan Blambangan kedalam karisidenan Besuki, dan mengangkat Mas Alit sebagai KRT Wiroguno sebagai Bupati Pertama dimulai dari KRT Wiroguno inilah dinasti Kerajaan Blambangan secara pasti dan terpercaya telah memeluk Islam, generasi diatas KRT Wiroguno tidak terdapat sumber terpercaya telah memeluk Agama Islam. Hilangnya Blambangan bagi Bali merupakan suatu peristiwa yang sangat berarti dari segi kebudayaan. Para raja Bali percaya bahwa moyang mereka berasal dari Majapahit. Dengan masuknya Blambangan ke dalam kekuasaan VOC, Bali menjadi lepas dari Jawa. Arkeologi Beberapa penemuan sejarah yang menjadi objek cukup menarik dari peninggalan kerajaan blambangan adalah Tembok Rejo, berupa tembok bekas benteng kerajaan Blambangan sepanjang lebih kurang 5 km terpendam pada kedalaman 1 - 0.5 m dari permukaan tanah dan membentang dari masjid pasar muncar hingga di areal persawahan Desa Tembok Rejo. Siti Hinggil atau oleh masyarakat lebih di kenal dengan sebutan setinggil yang artinya Siti adalah tanah, Hinggil/inggil adalah tinggi.Objek Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan pasar muncar (lebih kurang 400 meter arah utara TPI/Tempat Pelelangan ikan). Siti Hinggil ini merupakan pos pengawasan pelabuhan/syah bandar yang berkuasa pada masa kerajaan Blambangan, berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing yang mempunyai "keistimewaan" untuk mengawasi keadaan di sekitar teluk pang Pang dan Semenanjung Blambangan. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang kini tersimpan di museum daerah berupa Guci dan asesoris gelang lengan, sedangkan kolam dan Sumur kuno yang ditemukan masih berada di sekitar Pura Agung Blambangan yaitu di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Di samping itu pada lokasi Keraton Macan Putih didaerah Kecamatan Kabat didapati relief arkeologi dan benda benda yang terkubur saat ini dilokasi seluas 44 Hectare yang telah menjadi persawahan dan kebun sering didapati benda arkeologi milik kerajaan, beberapa puing tembok batas kerajaan pun terkubur rusak dan hancur, masyarakat setempat sering memindahkan dan atau menyimpan puing puing tersebut. Ditemui juga beberapa koleksi di beberapa museum di Belanda yang berisi gambar, foto maupun artefact Keraton Macan Putih. Setelah Keraton Macan Putih hancur penerus Raja Blambangan yaitu Mas Jaka Rempeg mendirikan Kerajaan Bayu yang berada di sekitar Rawa Bayu kerajaan ini tidak bertahan lama karena perang Puputan Bayu 1771, yakni dalam hitungan bulan saja disini dapat ditemukan beberapa sisa artefact dan bekas peperangan dengan VOC Hingga kini meskipun Kerajaan sudah hancur Para kerabat Kerajaan secara turun temurun tetap menjaga beberapa pusaka penting peninggalan Kerajaan.
  Sumber
•Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN 978-0-230-54686-8 •Purwasastra, Muji Rahayu, Sriyanto, Cariyosipun tanah Balambangan jamanipun wong Agung Wilis, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Universitas Michigan 1996, ISBN 978-979-459-609-8 •Purwasastra, Babad Wilis,Wilis.html?id=3LotAAAAMAAJ&redir esc=y Naskah dan Dokumen Nusantara: Textes et Documents Nousantariens, I.pp. lxxxviii, 393, 9 pl., map. Jakarta, Bandung, Lembaga Penelitian Perancis untuk Timur Jauh: École Française d'Extrême-Orient, 1980. •Winarsih Arifin, Babad Sembar: chroniques de l'est javanais, Presses de l'École française d'Extrême-Orient, 1995 , ISBN 978-2-85539-777-1 •Margana Dr. Sri., Java's last Frontier, Universiteit Leiden •[1], Puri Gumuk Merang, Banyuwangi •I Made Sudjana, Nagari tawon madu: sejarah politik Blambangan abad XVIII blambangan&hl=id&source=gbs similarbooks, Larasan-Sejarah, 2001, ISBN 978-979-96250-0-7

Monday, 14 January 2013


Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan Lampung. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang. Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Karakter orang Sunda yang periang dan suka bercanda seringkali ditampilkan melalui tokoh populer dalam cerita Sunda yaitu Kabayan dan tokoh populer dalam wayang golek yaitu Cepot, anaknya Semar. Mereka bersifat riang, suka bercanda, dan banyak akal, tetapi seringkali nakal. Orang sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain. Sang HyangSurawisesa atau Raja Samian adalah raja pertama di Nusantara yang melakukan hubungan diplomatik dengan Bangsa lain pada abad ke 15 dengan orang Portugis di Malaka. Hasil dari diplomasinya dituangkan dalam Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal. Beberapa tokoh Sunda juga menjabat Menteri dan pernah menjadi wakil Presiden pada kabinet RI.
Disamping prestasi dalam bidang politik (khususnya pada awal masa kemerdekaan Indonesia) dan ekonomi, prestasi yang cukup membanggakan adalah pada bidang budaya yaitu banyaknya penyanyi, musisi, aktor dan aktris dari etnis Sunda, yang memiliki prestasi di tingkat nasional, maupun internasional.
Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219). Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak zaman kerajaan Kerajaan Salakanagara,Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga sekarang .
Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagarayang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.
Selain agama yang dijadikan pandangan hidup, orang Sunda juga mempunyai pandangan hidup yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Pandangan hidup tersebut tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya karena secara tersurat dan tersirat dikandung juga dalam ajaran agamanya, khususnya ajaran agama Islam. Pandangan hidup orang Sunda yang diwariskan dari nenek moyangnya dapat diamati pada ungkapan tradisional, juga dari naskah kuno.

Hubungan antara sesama manusia


Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda pada dasarnya harus dilandasi oleh sikap“silih asih, silih asah, dan silih asuh”, artinya harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan, seperti tampak pada ungkapan-ungkapan berikut ini:
  • Kawas gula jeung peueut yang artinya hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah berselisih.
  • Ulah marebutkeun balung tanpa eusi yang artinya jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya.
  • Ulah ngaliarkeun taleus ateul yang artinya jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan atau keresahan.
  • Ulah nyolok mata buncelik yang artinya jangan berbuat sesuatu di hadapan orang lain dengan maksud mempermalukan.
  • Buruk-buruk papan jati yang artinya berapapun besar kesalahan saudara atau sahabat, mereka tetap saudara kita, orang tua tentu dapat mengampuninya.
  • Hubungan antara manusia dengan negara dan bangsanya

    Hubungan antara manusia dengan negara dan bangsanya, menurut pandangan hidup orang Sunda, hendaknya didasari oleh sikap yang menjunjung tinggi hukum, membela negara, dan menyuarakan hati nurani rakyat. Pada dasarnya, tujuan hukum yang berupa hasrat untuk mengembalikan rasa keadilan, yang bersifat menjaga keadaan, dan menjaga solidaritas sosial dalam masyarakat. Masalah ini dalam masyarakat Sunda terpancar dalam ungkapan-ungkapan:
    • Kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balarea (harus menjunjung tinggi hukum, berpijak kepada ketentuan negara, dan bermupakat kepada kehendak rakyat.
    • Bengkung ngariung bongkok ngaronyok (bersama-sama dalam suka dan duka).
    • Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju (memohon pertimbangan dan kebijaksanaan yang seadil-adilnya, memohon ampun)


Pernahkah anda mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut. 

Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. 

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. 

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

"Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali," tegas sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.

Hal ini dia sampaikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. 

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. 

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat. 

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri. 

Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. 

Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.